Makna Lagu Manusia (Sumarah) Barasuara: Pesan di Balik Lirik yang Menyentuh

Manusia Sumarah menjadi salah satu lagu yang banyak dicari pendengar musik Indonesia belakangan ini. Rasa penasaran publik wajar muncul, sebab liriknya sarat makna filosofis tentang takdir, waktu, dan keberadaan di semesta.

Lintas Sosial mencoba mengulas lebih dalam apa sebenarnya pesan yang ingin disampaikan Barasuara lewat karya ini. Ulasan ini disusun dengan menelaah lirik secara utuh, bukan sekadar menerka makna sepotong-sepotong.

“Manusia (Sumarah)” dirilis Barasuara pada 21 Juni 2024 sebagai bagian dari album Jalaran Sadrah di bawah label Hu Shah Records. Lagu berdurasi tiga menit lebih ini digarap di beberapa studio berbeda, menandakan proses kolaboratif yang matang dari para personelnya.

Sejak dirilis, lagu Manusia Sumarah cukup banyak diperbincangkan di kalangan pencinta musik alternatif Tanah Air. Bukan tanpa alasan, sebab tema yang diangkat terasa dekat dengan pergulatan batin banyak orang saat menghadapi masa-masa sulit.

Barasuara sendiri dikenal luas sebagai salah satu band rock alternatif paling konsisten di industri musik Indonesia sejak debut mereka pada 2015. Konsistensi itu tampak dari cara mereka meramu lirik puitis dengan aransemen musik yang megah, termasuk dalam lagu ini.

Lirik Lagu Manusia (Sumarah) – Barasuara

Manusia (Sumarah)

Kita berubah di keadaan yang tak indah
Meniti pelan di kegelapan

Berhembus, siang menuju malam
Menundukkan matahari dan bulan

Kita hidup di bawah tujuh langit
Dunia kan berputar pada porosnya
Kita semua dituliskan takdirnya

Langit berhias gemintang
Bintang bertukar pandangan

Manusia debu dalam semesta

Kita hidup di bawah tujuh langit
Dunia kan berputar pada porosnya
Kita semua dituliskan takdirnya

Langit berhias gemintang
Bintang bertukar pandangan

Manusia debu dalam semesta

Manusia hidup di dalam putaran
Manusia kan ditelan peradaban
Manusia tidak bisa sendirian
Manusia harus bisa memaafkan
Manusia tangis dan perasaan
Pion dalam keseimbangan
Kita kekal di kepulangan

Kita kekal di kepulangan

Baca juga: Perjalanan Barasuara Hingga Menjadi Band Viral dengan Terbuang Dalam Waktu

Makna Lagu Manusia Sumarah Barasuara

Bait pembuka lagu ini berbicara tentang perubahan yang terjadi di tengah keadaan yang tidak menyenangkan. Digambarkan pula proses meniti jalan secara perlahan di tengah kegelapan, sebuah metafora tentang perjuangan menghadapi masa sulit tanpa arah yang pasti.

Bagian pre-chorus melanjutkan gambaran itu lewat pergantian siang menuju malam. Pergantian waktu ini menjadi simbol penantian akan datangnya harapan baru.

Memasuki reff, makna lagu Manusia Sumarah semakin terasa kuat lewat gambaran kita yang hidup di bawah langit luas sementara dunia terus berputar pada porosnya. Larik ini menegaskan gagasan bahwa alam semesta berjalan sesuai hukumnya sendiri, terlepas dari kehendak kita.

Reff kemudian menegaskan bahwa setiap orang telah dituliskan takdirnya masing-masing. Gagasan ini berpadu dengan gambaran langit yang dihiasi bintang-gemintang yang seolah saling bertukar pandang dengan manusia di bumi.

Puncaknya, manusia digambarkan sebagai debu dalam semesta. Frasa ini merupakan inti dari makna lagu Manusia Sumarah, yakni pengingat akan betapa kecilnya kita di hadapan alam raya yang mahaluas.

Bagian outro membawa pendengar pada refleksi yang lebih personal dan sosial. Manusia digambarkan hidup dalam sebuah putaran yang terus berulang, sekaligus perlahan ditelan oleh peradaban yang terus berkembang.

Larik selanjutnya menegaskan bahwa kita tidak bisa hidup sendirian dan harus mampu memaafkan. Pesan ini terasa relevan sebagai pengingat pentingnya hubungan sosial serta kelapangan hati dalam menjalani kehidupan bersama orang lain.

Outro ditutup dengan gambaran manusia sebagai pion dalam keseimbangan semesta, lengkap dengan tangis dan segala perasaannya. Baris terakhir yang diulang dua kali, tentang kekekalan di kepulangan, memberi kesan bahwa kematian atau kembalinya kita pada asalnya adalah satu-satunya kepastian yang abadi.

Secara keseluruhan, lirik Manusia Sumarah menyusun sebuah perjalanan naratif yang utuh. Dimulai dari perubahan dan kesulitan, berlanjut ke penantian harapan, lalu bermuara pada kesadaran akan takdir dan kefanaan.

Baca juga: Makna Lagu Hitam dan Biru Barasuara, Refleksi Kegelisahan di Usia 20-an

Momen Refleksi Diri

Banyak pendengar mengaku lagu ini pas didengarkan saat sedang butuh waktu untuk merenung. Nuansa musik yang cenderung megah namun kontemplatif membuat lirik lagu ini semakin terasa dalam ketika didengarkan secara utuh.

Berikut beberapa momen yang cocok untuk mendengarkan lagu ini sebagai bahan refleksi diri:

  • Saat sedang menghadapi masa transisi atau perubahan besar dalam hidup.
  • Ketika butuh pengingat bahwa kesulitan yang dialami bersifat sementara.
  • Di waktu senggang untuk merenungkan makna hidup dan takdir.
  • Saat proses menerima keadaan atau berdamai dengan masa lalu.
  • Ketika ingin memaknai ulang hubungan dengan orang-orang terdekat.

Tema tentang penerimaan atau sumarah dalam bahasa Jawa memang menjadi benang merah utama lagu ini. Konsep tersebut mengajarkan sikap pasrah yang bukan berarti menyerah, melainkan menerima kenyataan hidup dengan lapang dada.

Sikap sumarah ini pula yang membuat lagu Manusia Sumarah terasa berbeda dari lagu-lagu bertema motivasi pada umumnya. Alih-alih menawarkan semangat yang menggebu, lagu ini justru mengajak pendengar untuk berhenti sejenak dan menerima keadaan apa adanya.

Pesan tentang memaafkan yang muncul di bagian outro juga memperkuat nuansa reflektif tersebut. Larik ini mengingatkan bahwa proses penerimaan sering kali dimulai dari kemampuan memaafkan diri sendiri maupun orang lain.

Bagi pendengar yang sedang mencari lagu dengan lirik mendalam dan cocok untuk mood related playlist, lagu ini bisa menjadi pilihan yang tepat. Kombinasi antara musikalitas Barasuara yang khas dan lirik yang puitis menjadikan lagu ini layak masuk daftar putar renungan harian.

Lagu ini juga cocok didengarkan bersamaan dengan aktivitas jurnal harian atau self reflection time yang belakangan makin digemari anak muda. Ritme musik yang perlahan namun megah membantu menciptakan suasana yang mendukung proses perenungan tersebut.

Pada akhirnya, makna lagu Manusia Sumarah mengajak setiap pendengar untuk melihat kembali posisinya di tengah semesta yang luas. Sebuah pengingat sederhana namun mengena, bahwa di balik segala kesibukan dan pergulatan hidup, kita tetaplah bagian kecil dari alam yang jauh lebih besar.

Leave a Comment