Nama Barasuara mendadak ramai dibicarakan publik setelah lagu mereka mengiringi salah satu film terlaris Indonesia. Padahal, perjalanan band ini sudah dimulai lebih dari satu dekade lalu, jauh sebelum dikenal luas seperti sekarang.
Lintas Sosial merasa kisah Barasuara menjadi contoh menarik bagaimana proses kreatif panjang akhirnya menemukan momentumnya. Dari panggung kecil di Kemang hingga menembus jutaan pendengar baru, jalan yang ditempuh band ini tidak instan dan penuh kejutan.
Awal Mula Terbentuknya Barasuara
Cikal bakal band ini berawal dari ajakan sederhana Iga Massardi kepada TJ Kusuma dan Marco Steffiano untuk membentuk grup bersama. Tidak lama setelahnya, Asteriska bergabung dan formasi awal mulai terbentuk.
Posisi bassist sempat ditawarkan kepada Pandu Fuzztoni dari Morfem, namun proses latihan tidak berjalan lancar karena berbagai alasan teknis seperti motor mogok dan kendala waktu. Latihan band yang digelar di rumah Marco akhirnya membuka jalan baru ketika Gerald Situmorang, tetangga Marco, diajak bergabung.
Menariknya, Gerald sebenarnya seorang gitaris jazz, bukan pemain bass. Karena ikatan pertemanan, ia menyanggupi permintaan Iga dan Marco untuk mengisi posisi bass di formasi yang baru terbentuk itu.
Setelah dua tahun berlatih dan merekam beberapa materi, seluruh personel sepakat menjadikan Gerald sebagai bassist tetap. Formasi makin lengkap saat Puti Chitara diajak mengisi panggung perdana di Tokove, Kemang, lalu resmi ditarik sebagai anggota tetap band.
Panggung pertama itu sekaligus melahirkan momen ikonik. Iga dan Marco membuat taruhan kecil, jika Marco tampil tanpa baju maka Iga akan memakai batik di atas panggung, dan penampilan batik Iga Massardi pada manggung pertama itu kini identik dengan citra band ini. Momen tersebut juga didokumentasikan oleh Davian Akbar, yang sejak itu konsisten menjadi fotografer resmi mereka hingga sekarang.
Baca juga: 10 Band Indonesia Terbaik 2026 yang Wajib Masuk Playlist Kamu
Album Taifun dan Tantangan di Album Kedua
Tidak lama setelah debut panggung, mereka merilis album pertama berjudul Taifun. Album ini langsung mendapat sambutan hangat dari pendengar musik indie tanah air.
Lagu-lagu seperti “Bahas Bahasa,” “Taifun,” “Sendu Melagu,” dan “Mengunci Ingatan” menjadi favorit banyak pendengar setia mereka. Keberhasilan Taifun membuka banyak kesempatan manggung baru bagi grup ini.
Berkat rangkaian panggung tersebut, basis pendengar Barasuara meluas hingga ke luar Jakarta. Nama band ini mulai diperhitungkan serius di skena musik alternatif Indonesia.
Pada 2019, mereka merilis album kedua berjudul Pikiran dan Perjalanan. Sayangnya, album ini justru menuai kritik dari sejumlah media dan pengamat musik yang menilai materinya kurang menggigit dibandingkan album pertama.
Situasi makin sulit ketika pandemi Covid-19 melanda tak lama setelah perilisan. Album kedua ini praktis tidak punya kesempatan dibawakan secara maksimal di banyak panggung akibat pembatasan aktivitas selama pandemi.
Album Jalaran Sadrah dan Momentum Terbuang Dalam Waktu
Pasca pandemi, mereka perlahan kembali dengan beberapa single baru. “Fatalis,” “Merayakan Fana,” dan “Terbuang Dalam Waktu” dirilis satu per satu sebelum akhirnya dikumpulkan dalam album ketiga.
Album bertajuk Jalaran Sadrah ini mendapat banyak pujian atas kedewasaan musikalitas para personel. Sentuhan arranger kawakan Erwin Gutawa pada lagu “Terbuang Dalam Waktu,” “Merayakan Fana,” dan “Hitam dan Biru” turut memperkuat kualitas album ini.
Meski mendapat apresiasi kritis yang baik, jumlah pendengar mereka saat itu belum berkembang signifikan. Titik balik justru datang dari arah yang tidak terduga.
Sutradara Yandy Laurens mengajak Barasuara mengisi soundtrack film SORE: Istri Dari Masa Depan. Dua lagu, “Terbuang Dalam Waktu” dan “Pancarona,” dipercaya mengisi momen-momen penting dalam film tersebut.
Ketika film ini meledak dan ditonton jutaan orang, band ini ikut merasakan dampaknya secara langsung. Angka pendengar bulanan Spotify mereka yang sebelumnya berkisar 150 ribu melonjak drastis menjadi sekitar 5 juta pendengar dalam waktu singkat.
Barasuara dan Jalan Panjang Menuju Pengakuan Luas
Lonjakan pendengar ini membuktikan bahwa konsistensi berkarya selama lebih dari satu dekade akhirnya membuahkan hasil. Band ini berhasil menjangkau pasar pendengar baru yang sebelumnya belum pernah tersentuh oleh musik mereka.
Fenomena ini juga menegaskan bagaimana medium film dan platform digital dapat mempercepat jangkauan sebuah karya musik. Lagu yang sebelumnya dikenal di kalangan terbatas, kini diputar di berbagai tempat, dari kafe hingga kantin perkantoran.
Bagi penggemar lama, kebangkitan ini terasa seperti validasi atas apresiasi yang sudah dipupuk sejak album Taifun. Banyak yang merasa bahagia melihat band kesayangan mereka akhirnya mendapat pengakuan yang lebih luas.
Berikut rangkuman pencapaian penting Barasuara dari masa ke masa:
- Debut panggung di Tokove Kemang dengan formasi yang baru terbentuk.
- Album Taifun (2017) memperkenalkan mereka ke skena musik indie nasional.
- Album Pikiran dan Perjalanan (2019) hadir di tengah kritik dan tantangan pandemi.
- Album Jalaran Sadrah membawa kematangan musikal dengan sentuhan Erwin Gutawa.
- Soundtrack film SORE: Istri Dari Masa Depan menjadi titik balik popularitas mereka.
Perjalanan Barasuara menunjukkan bahwa proses berkarya yang konsisten, meski sempat melewati masa sepi dan kritik, dapat berbuah manis pada waktu yang tepat. Kini, dengan jutaan pendengar baru, masa depan band ini tampak semakin cerah untuk terus berkarya di industri musik Indonesia.