MBG prasmanan mulai diterapkan secara bertahap sebagai model baru dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang tidak hanya bertujuan memenuhi kebutuhan gizi siswa, tetapi juga membangun kebiasaan positif di lingkungan sekolah. Badan Gizi Nasional (BGN) menilai sistem ini mampu mengurangi sisa makanan, melatih kedisiplinan, serta menumbuhkan rasa tanggung jawab sejak usia dini.
Saat ini sebanyak 62 dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) telah mengikuti uji coba penerapan sistem tersebut di berbagai daerah. Jika hasil evaluasi berjalan sesuai harapan, pemerintah menargetkan antara 1.000 hingga 5.000 dapur dapat menerapkan MBG prasmanan sebelum akhir 2026.
Kebijakan ini menunjukkan bahwa Program Makan Bergizi Gratis tidak hanya berorientasi pada pemenuhan nutrisi anak, tetapi juga menjadi bagian dari pembentukan karakter melalui aktivitas sederhana yang dilakukan setiap hari di sekolah.
MBG Prasmanan Dorong Budaya Disiplin di Sekolah
Berbeda dengan sistem pembagian makanan yang telah diporsikan sebelumnya, MBG prasmanan memberikan kesempatan kepada siswa mengambil makanan sesuai kebutuhan masing-masing.
Melalui mekanisme tersebut, siswa belajar memperkirakan porsi makan agar tidak berlebihan. Kebiasaan sederhana ini dinilai penting untuk membentuk kesadaran dalam menghargai makanan sekaligus mengurangi pemborosan pangan.
Selain itu, proses mengambil makanan dilakukan secara bergantian sehingga siswa terbiasa mengantre dengan tertib dan menghormati giliran teman lainnya. Nilai-nilai seperti kesabaran, kedisiplinan, hingga kepedulian terhadap orang lain dapat tumbuh melalui rutinitas yang dilakukan setiap hari.
Di banyak sekolah, kegiatan makan bersama memang kerap menjadi ruang belajar sosial. Kehadiran MBG prasmanan memperkuat fungsi tersebut karena siswa tidak hanya menerima makanan, tetapi juga ikut memahami pentingnya tanggung jawab dalam proses pelayanan.
BGN juga membuka peluang bagi sekolah untuk menerapkan sistem piket secara bergiliran. Melalui kegiatan itu, siswa dapat membantu melayani teman-temannya di bawah pendampingan guru maupun petugas, sehingga pengalaman belajar tidak hanya berlangsung di dalam kelas.
Baca juga: MBG Jalan Lagi Setelah Libur Sekolah, Bagaimana Penerapannya?
Manfaat MBG Prasmanan bagi Lingkungan Sekolah
Selain memberikan manfaat bagi siswa, MBG prasmanan juga dinilai mampu menciptakan lingkungan sekolah yang lebih tertib dan ramah terhadap pengelolaan makanan.
Salah satu hasil awal dari uji coba menunjukkan tingkat makanan yang dihabiskan siswa relatif lebih tinggi. Karena siswa mengambil makanan sesuai kebutuhan, jumlah makanan yang terbuang menjadi lebih sedikit dibandingkan sistem pembagian porsi tetap.
Dari sisi kualitas makanan, penyajian secara prasmanan juga membuat makanan diterima siswa dalam kondisi lebih hangat. Kondisi tersebut dinilai mampu meningkatkan selera makan sehingga siswa lebih menikmati menu yang telah disiapkan.
Manfaat lain yang tidak kalah penting adalah munculnya budaya menghargai makanan sejak usia sekolah. Anak-anak belajar bahwa makanan merupakan hasil kerja banyak pihak, mulai dari petani, pengolah pangan, hingga petugas dapur yang menyiapkan hidangan setiap hari.
Nilai sosial seperti gotong royong juga lebih mudah ditanamkan karena seluruh warga sekolah memiliki peran dalam menciptakan suasana makan yang nyaman, tertib, dan saling menghormati.
Melalui kebiasaan tersebut, sekolah tidak hanya menjadi tempat belajar akademik, tetapi juga ruang untuk membentuk karakter yang bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari.
Baca juga: BGN Ajak BPOM Pastikan MBG Aman untuk Anak Indonesia
Target Perluasan MBG Prasmanan hingga Ribuan Dapur
Kepala Badan Gizi Nasional, Sudaryono, mengatakan bahwa uji coba MBG prasmanan akan dievaluasi selama dua minggu sebelum diperluas ke lebih banyak wilayah.
Apabila tidak ditemukan kendala berarti, pemerintah menargetkan sedikitnya 1.000 hingga maksimal 5.000 dapur SPPG menerapkan sistem tersebut sebelum akhir tahun 2026.
Meski demikian, perluasan program tidak hanya bergantung pada kesiapan dapur penyedia makanan. Sekolah juga harus memiliki kesiapan dari sisi fasilitas, pengaturan pelayanan, hingga sumber daya manusia yang mendukung pelaksanaan sistem prasmanan.
Karena itu, penerapan akan dilakukan secara bertahap dengan mengutamakan dapur dan sekolah yang telah siap menjalankan mekanisme baru tersebut.
BGN menegaskan bahwa keterlibatan siswa dalam pelayanan makanan bukan untuk menggantikan petugas dapur, melainkan sebagai bagian dari proses pendidikan karakter yang dirancang secara terarah.
Jika implementasi berjalan sesuai target, MBG prasmanan berpotensi menjadi model pelayanan makan bergizi yang tidak hanya meningkatkan kualitas konsumsi pangan anak sekolah, tetapi juga memperkuat nilai-nilai sosial seperti disiplin, tanggung jawab, kepedulian terhadap sesama, serta kebiasaan mengurangi sampah makanan.
Melalui pendekatan tersebut, Program Makan Bergizi Gratis diharapkan mampu memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat. Selain mendukung peningkatan kualitas gizi anak Indonesia, program ini juga dapat membangun budaya positif di sekolah yang berkontribusi pada pembentukan generasi yang lebih sehat, peduli lingkungan, dan memiliki karakter sosial yang kuat.