FOMO jadi istilah yang makin sering muncul di obrolan Gen-Z, terutama saat ngomongin tren, event, atau kehidupan sosial di media sosial. FOMO adalah perasaan takut ketinggalan sesuatu yang dianggap seru, penting, atau lagi happening di sekitar kita.
Di era digital, FOMO bukan cuma soal nggak datang ke acara, tapi juga soal nggak update tren TikTok, nggak ikut hype, atau bahkan nggak punya barang yang lagi viral. Hal ini bikin banyak orang merasa harus selalu “ikut arus” supaya tetap relevan.
Arti FOMO
Arti FOMO berasal dari singkatan “Fear of Missing Out” yang kalau diterjemahkan berarti takut ketinggalan. Dalam konteks sehari-hari, arti kata FOMO menggambarkan rasa cemas ketika kamu merasa orang lain mengalami hal yang lebih seru dibanding kamu.
Kepanjangan FOMO ini sering dipakai untuk menjelaskan kondisi psikologis yang dipicu oleh perbandingan sosial, terutama di media sosial. Fear of Missing Out adalah fenomena yang bikin seseorang merasa harus selalu terlibat, bahkan ketika sebenarnya tidak benar-benar ingin.
Baca juga: Seperti Apa Kepribadian ISTP? Si Virtuoso yang Logis tapi Misterius
Penyebab Seseorang FOMO
Salah satu penyebabnya adalah paparan media sosial yang berlebihan, karena kita terus melihat highlight kehidupan orang lain. Padahal, yang ditampilkan biasanya hanya sisi terbaik, bukan realita sepenuhnya.
Selain itu, rasa kurang percaya diri juga bisa memicu hal ini karena seseorang butuh validasi dari lingkungan sosialnya. Tekanan untuk diterima dan dianggap “gaul” membuat banyak orang akhirnya ikut-ikutan tren tanpa mempertimbangkan kebutuhan pribadi.
Faktor lain adalah kebutuhan untuk selalu terhubung dengan dunia luar yang semakin tinggi di era digital. Notifikasi yang terus muncul bikin kita merasa harus selalu update, seolah kalau offline sedikit saja kita bakal tertinggal jauh.
Ciri-ciri FOMO
Fear of Missing Out sebenarnya cukup mudah dikenali dari kebiasaan sehari-hari. Beberapa tanda ini sering muncul tanpa disadari, terutama kalau kamu aktif di media sosial dan sering membandingkan diri dengan orang lain.
1. Sering scroll media sosial tanpa henti
Orang yang mengalami takut ketinggalan biasanya sulit lepas dari media sosial karena takut ketinggalan update terbaru. Aktivitas ini sering dilakukan bahkan tanpa tujuan jelas, hanya untuk memastikan tidak ada momen yang terlewat.
2. Takut dikucilkan dari lingkungan
FOMO membuat seseorang merasa harus selalu ikut dalam setiap aktivitas sosial agar tetap diterima. Rasa takut ini bisa mendorong mereka melakukan hal yang sebenarnya tidak sesuai dengan diri mereka sendiri.
3. Terlalu banyak mengambil komitmen
Mereka cenderung bilang “iya” ke banyak hal supaya tidak ketinggalan pengalaman. Akibatnya, waktu dan energi terkuras, bahkan sampai merasa kelelahan secara fisik dan mental.
4. Nggak pernah merasa puas
Walaupun sudah ikut banyak hal, perasaan puas tetap sulit didapatkan karena selalu membandingkan diri dengan orang lain. Pikiran mereka sering terfokus pada apa yang belum dimiliki, bukan yang sudah ada.
Baca juga: Quarter Life Crisis Adalah: Pengertian, Umur Berapa, Penyebab, dan Cara Mengatasinya
Apa Kata Psikologi dan Kesehatan?
Dalam perspektif psikologi, FOMO berkaitan erat dengan kecemasan sosial dan kebutuhan akan validasi eksternal. Ketika seseorang terus membandingkan dirinya dengan orang lain, hal ini bisa memicu stres hingga perasaan tidak cukup baik.
Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa fenomena ini dapat meningkatkan risiko gangguan mental seperti anxiety dan depresi. Hal ini terjadi karena individu merasa tertinggal, kesepian, atau tidak memiliki kehidupan yang “semenarik” orang lain.
Dari sisi kesehatan, FOMO juga bisa berdampak pada kualitas tidur karena kebiasaan mengecek media sosial terus-menerus. Kurang tidur ini pada akhirnya bisa memengaruhi konsentrasi, produktivitas, hingga kondisi fisik secara keseluruhan.
Menariknya, psikologi juga mengenal konsep kebalikannya, yaitu JOMO (Joy of Missing Out). Konsep ini mengajarkan bahwa tidak ikut semua hal justru bisa memberi ketenangan dan kebahagiaan tersendiri.
Cara Mengatasi FOMO
Mengatasi FOMO bukan berarti kamu harus “menarik diri” dari dunia sosial, tapi lebih ke mengatur cara kamu meresponsnya. Dengan langkah yang tepat, kamu tetap bisa update tanpa harus merasa tertekan.
- Batasi penggunaan media sosial
- Tentukan prioritas hidup dan aktivitas
- Fokus pada diri sendiri dan tujuan pribadi
- Latih rasa syukur setiap hari
- Bangun hubungan yang lebih bermakna
- Kurangi kebiasaan membandingkan diri
- Coba mindfulness atau journaling
- Berani bilang “tidak” pada hal yang tidak penting
FOMO adalah fenomena yang wajar di era digital, tapi tetap perlu dikontrol agar tidak berdampak buruk pada kesehatan mental. Dengan memahami arti FOMO, penyebab, dan cara mengatasinya, kamu bisa tetap enjoy hidup tanpa harus selalu ikut semua tren.