Air fryer vs minyak goreng menjadi pertanyaan penting bagi masyarakat yang ingin menikmati makanan renyah dengan lebih sedikit minyak. Secara umum, air fryer dapat menjadi pilihan yang lebih rendah kalori dan lemak karena menggunakan minyak dalam jumlah jauh lebih sedikit dibandingkan metode menggoreng secara deep frying maupun shallow frying.
Air fryer bekerja seperti oven konveksi berukuran kecil dengan mengedarkan udara panas ke seluruh permukaan makanan. Sementara itu, minyak goreng menghantarkan panas melalui minyak yang bersentuhan langsung dengan makanan sehingga sebagian minyak dapat terserap selama proses memasak.
Perbandingan Air Fryer vs Minyak Goreng
Perbandingan air fryer vs minyak goreng dapat dilihat dari penggunaan minyak, jumlah kalori, kandungan lemak, tekstur makanan, hingga kepraktisan. Pilihan terbaik tetap bergantung pada jenis makanan dan tujuan memasak.
| Aspek | Air Fryer | Minyak Goreng |
|---|---|---|
| Penggunaan minyak | Sedikit atau tanpa minyak | Membutuhkan minyak lebih banyak |
| Kalori dari minyak | Lebih rendah | Lebih tinggi |
| Kandungan lemak | Cenderung lebih rendah | Cenderung lebih tinggi |
| Tekstur | Renyah dan lebih kering | Renyah dan cenderung lebih juicy |
| Rasa | Lebih ringan | Lebih gurih dan kaya |
| Kebersihan | Lebih minim cipratan | Lebih banyak cipratan |
| Kapasitas | Umumnya lebih terbatas | Bisa memasak banyak makanan |
Perbedaan air fryer vs minyak goreng paling terlihat dari jumlah minyak yang digunakan selama proses memasak. Air fryer hanya membutuhkan sedikit minyak untuk membantu menghasilkan tekstur renyah, sedangkan deep frying membuat makanan terendam dalam minyak panas.
Sebagai gambaran, 71 gram kentang goreng yang dimasak menggunakan air fryer memiliki sekitar 116 kalori dan 4 gram lemak. Porsi kentang goreng deep frying dengan berat yang sama mengandung sekitar 229 kalori dan 11 gram lemak.
Perbedaan tersebut juga terlihat pada sayuran. Satu cangkir Brussels sprouts yang dimasak menggunakan air fryer dengan satu sendok teh minyak diperkirakan mengandung 78 kalori dan 5 gram lemak, sedangkan versi deep frying dengan tiga sendok makan minyak mencapai sekitar 368 kalori dan 41 gram lemak.
Pada chicken cutlet, penggunaan air fryer dengan satu sendok teh minyak menghasilkan sekitar 230 kalori dan 16 gram lemak. Sebaliknya, chicken cutlet yang digoreng menggunakan tiga sendok makan minyak dapat mencapai sekitar 550 kalori dan 52 gram lemak.
Data tersebut menunjukkan bahwa air fryer vs minyak goreng bukan sekadar perbedaan alat memasak, tetapi juga dapat memengaruhi jumlah kalori dan lemak yang masuk ke dalam makanan. Minyak mengandung sekitar 120 kalori per sendok makan sehingga penggunaan dalam jumlah besar dapat meningkatkan asupan energi secara signifikan.
Namun, tidak semua minyak yang digunakan untuk menggoreng akan terserap makanan. Jumlah minyak yang masuk ke makanan dipengaruhi oleh jenis makanan, temperatur, lama memasak, luas permukaan, serta metode penggorengan.
Dari segi rasa, air fryer vs minyak goreng memiliki karakter yang berbeda. Makanan yang digoreng dengan minyak umumnya memiliki rasa lebih gurih dan tekstur yang lebih renyah karena lemak membantu membentuk cita rasa serta karakter makanan.
Air fryer menghasilkan kerenyahan melalui sirkulasi udara panas dan proses pengeringan cepat. Hasilnya dapat menyerupai makanan yang digoreng, tetapi teksturnya terkadang lebih kering dan rasanya lebih ringan.
Baca juga: 7 Rekomendasi Tempat Makan Terbaik di Daerah Bandung Timur
Apakah Air Fryer Lebih Baik dari Minyak Goreng?
Jika tujuan utama adalah mengurangi konsumsi minyak, kalori, dan lemak, air fryer memiliki keunggulan dibandingkan menggoreng menggunakan banyak minyak. Hal tersebut membuat air fryer menarik bagi orang yang sedang mengatur pola makan atau ingin mengurangi asupan lemak tanpa sepenuhnya menghindari makanan renyah.
Meski demikian, air fryer tidak otomatis membuat makanan menjadi sehat. Nugget, kentang beku, makanan ringan berlapis tepung, dan produk ultra-proses tetap dapat mengandung sodium, karbohidrat olahan, serta lemak dalam jumlah tertentu meskipun dimasak tanpa banyak minyak.
Karena itu, manfaat air fryer sangat bergantung pada bahan makanan yang digunakan. Sayuran, ikan, ayam, kentang, dan sumber protein lain dapat menjadi pilihan yang lebih baik untuk dimasak menggunakan air fryer.
Dalam konteks air fryer vs minyak goreng, metode memasak hanyalah salah satu bagian dari kualitas makanan. Komposisi bahan, ukuran porsi, bumbu, serta keseluruhan pola makan tetap lebih penting dalam menentukan kualitas nutrisi makanan.
Air fryer juga memiliki beberapa keterbatasan. Kapasitas keranjang biasanya lebih kecil daripada wajan atau oven sehingga memasak terlalu banyak makanan sekaligus dapat membuat sirkulasi udara panas tidak optimal dan hasilnya kurang renyah.
Penggunaan temperatur tinggi juga perlu diperhatikan, terutama ketika memasak kentang. Akrilamida dapat terbentuk pada makanan tertentu yang dimasak dalam suhu tinggi, termasuk melalui proses menggoreng, memanggang, dan air frying.
Salah satu cara sederhana untuk mengurangi pembentukan akrilamida pada kentang adalah merendam potongan kentang dalam air selama sekitar 10 menit sebelum dimasak. Pengaturan pola makan yang beragam dengan lebih banyak sayuran, buah, dan biji-bijian juga membantu meningkatkan kualitas asupan secara keseluruhan.
Jadi, air fryer vs minyak goreng memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Air fryer lebih unggul dalam mengurangi penggunaan minyak dan kalori tambahan, sedangkan minyak goreng masih memberikan tekstur dan rasa yang sulit sepenuhnya ditiru.
Bagi masyarakat yang ingin menikmati makanan renyah dengan penggunaan minyak lebih sedikit, air fryer dapat menjadi alternatif praktis untuk memasak sehari-hari. Namun, memilih bahan makanan yang bernutrisi tetap menjadi faktor utama karena alat memasak tidak dapat mengubah makanan ultra-proses menjadi makanan sehat.
Pada akhirnya, air fryer vs minyak goreng sebaiknya dipilih berdasarkan kebutuhan dan jenis makanan. Jika prioritasnya adalah mengurangi minyak dan kalori, air fryer merupakan pilihan yang lebih menguntungkan, sementara minyak goreng tetap dapat digunakan secara wajar sebagai bagian dari pola makan seimbang.