Rismon Minta Damai Usai Polemik Ijazah Jokowi, Ini Kronologi dan Temuan Terbarunya

Rismon minta damai menjadi fenomena sosial yang ramai diperbincangkan setelah sebelumnya ia vokal menuding ijazah Presiden ke-7 RI Joko Widodo palsu. Permohonan Rismon minta damai disampaikan setelah ia menjalani proses hukum dan melakukan kajian ulang terhadap temuannya terkait dokumen ijazah Jokowi dari Universitas Gadjah Mada (UGM).

Langkah tersebut muncul setelah Rismon Hasiholan Sianipar mendatangi kediaman Jokowi di kawasan Sumber, Banjarsari, Solo, pada Kamis (12/3/2026). Dalam pertemuan itu, ia menyampaikan permintaan maaf kepada Jokowi sekaligus kepada publik atas polemik yang telah berlangsung selama berbulan-bulan.

Rismon menjelaskan bahwa permintaan maaf tersebut merupakan bentuk tanggung jawab moral sebagai peneliti. Ia menegaskan bahwa kajian ilmiah harus terbuka terhadap koreksi dan perkembangan temuan baru.

Menurutnya, selama dua bulan terakhir ia kembali melakukan penelitian terhadap dokumen ijazah yang dipersoalkan. Hasil kajian terbaru tersebut membuatnya mengubah sejumlah kesimpulan awal yang sebelumnya ia sampaikan di berbagai forum.

Baca juga: Wapres Gibran Soroti Bahaya AI: Penipuan Bisa Terjadi

Kronologi Polemik Ijazah Jokowi

Dinukil dari Detik, polemik mengenai ijazah Jokowi sebenarnya bukan isu baru di ruang publik Indonesia. Isu tersebut pertama kali mencuat sejak Jokowi mencalonkan diri sebagai presiden pada Pemilu 2014 dan kembali muncul dalam berbagai periode politik setelahnya.

Rismon menjadi salah satu tokoh yang aktif mengangkat isu tersebut dalam beberapa tahun terakhir. Ia bahkan pernah menyatakan secara tegas bahwa ijazah Jokowi “100 miliar persen palsu” dalam berbagai pernyataan publik dan konten digital.

Sebagai sosok yang mengklaim memiliki latar belakang forensik digital, Rismon menyampaikan analisis teknis terkait dokumen tersebut. Ia juga menuliskan hasil penelitiannya dalam sebuah buku setebal lebih dari 700 halaman berjudul Jokowi’s White Paper.

Dalam buku itu, ia menguraikan metode penelitian dan sejumlah dugaan kejanggalan pada dokumen ijazah Jokowi. Namun, proses hukum yang berjalan kemudian membuat polemik tersebut masuk ke ranah penyidikan oleh aparat penegak hukum.

Situasi tersebut membuat dinamika polemik berubah secara signifikan. Di tengah proses hukum itu, Rismon minta damai melalui mekanisme restorative justice kepada Polda Metro Jaya.

Permohonan tersebut diajukan melalui surat resmi yang dikirimkan sekitar sepekan sebelum ia datang langsung ke Polda Metro Jaya pada 11 Maret 2026. Kedatangannya bersama pengacara baru bertujuan menanyakan perkembangan permohonan penyelesaian perkara di luar pengadilan.

Temuan Baru dari Penelitian Ijazah

Setelah melakukan penelitian lanjutan, Rismon mengungkapkan bahwa ada temuan baru terkait karakteristik fisik ijazah Jokowi. Ia menyebut bahwa dokumen tersebut memiliki unsur pengaman berupa emboss dan watermark.

Menurutnya, kedua elemen tersebut memang lazim digunakan pada ijazah pada era tersebut. Ia juga mengakui bahwa pada tahun yang sama, banyak ijazah perguruan tinggi yang belum menggunakan hologram sebagai sistem pengaman dokumen.

Temuan ini menjadi salah satu alasan yang membuatnya melakukan evaluasi terhadap kesimpulan awal. Ia menegaskan bahwa analisis terhadap keaslian dokumen harus dilakukan dengan metodologi ilmiah, bukan hanya melalui narasi atau opini.

Rismon juga menjelaskan bahwa penelitian yang ia lakukan bersifat independen. Ia menegaskan tidak memiliki keterkaitan metodologis dengan penelitian yang dilakukan oleh Roy Suryo maupun dokter Tifa, meskipun mereka sering dikaitkan dalam polemik yang sama.

Ia menyebut setiap peneliti memiliki objek kajian dan metode analisis yang berbeda. Oleh karena itu, hasil penelitian masing-masing tidak bisa dianggap sebagai satu kesimpulan yang sama.

Dalam pernyataannya, ia juga menekankan bahwa kajian ilmiah harus bersifat objektif. Keputusan mengenai keaslian dokumen, menurutnya, seharusnya didasarkan pada metode penelitian yang jelas dan dapat diuji.

Rismon Minta Damai Saja

Di tengah polemik yang sempat memanas, Rismon minta damai sebagai langkah untuk menyelesaikan perkara secara damai. Ia menyebut permintaan maaf kepada Jokowi dan publik sebagai bagian dari tanggung jawab akademik sekaligus pribadi.

Pertemuan langsung dengan Jokowi di Solo menjadi simbol upaya meredakan konflik yang telah berlangsung lama. Dalam kesempatan tersebut, Rismon minta damai dan juga menegaskan tetap akan melanjutkan penelitian secara objektif.

Ia menilai bahwa diskursus ilmiah tidak boleh berhenti hanya karena tekanan atau kontroversi. Namun, ia menekankan bahwa penelitian harus dilakukan dengan pendekatan metodologis yang kuat dan dapat dipertanggungjawabkan.

Langkah Rismon minta damai ini juga menandai perubahan sikap dibandingkan pernyataan-pernyataan sebelumnya yang sangat tegas. Kini ia lebih menekankan pentingnya kajian ilmiah yang terbuka terhadap revisi dan koreksi.

Kasus ini pun menjadi sorotan publik karena memperlihatkan bagaimana polemik politik dan akademik dapat saling bersinggungan. Di sisi lain, proses hukum serta upaya penyelesaian damai menjadi faktor yang turut memengaruhi dinamika polemik tersebut.

1 thought on “Rismon Minta Damai Usai Polemik Ijazah Jokowi, Ini Kronologi dan Temuan Terbarunya”

  1. Hello my friend! I wish to say that this article is amazing, great written and
    come with almost all vital infos. I would like
    to look more posts like this .

    Reply

Leave a Comment